Asep Maryadi Kadin Kota Cimahi Fokus Kembangkan UMKM untuk Tekan Pengangguran dan Perkuat Ekonomi Daerah

Detik Akurat News
Minggu, 12 April 2026

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Cimahi menegaskan komitmennya dalam mendorong pertumbuhan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai strategi utama dalam menekan angka pengangguran dan memperkuat ekonomi daerah.
Ketua Kadin Kota Cimahi, Asep Maryadi, menyampaikan bahwa program-program yang dijalankan sejak tahun sebelumnya hingga ke depan akan tetap berfokus pada penguatan UMKM. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa sektor UMKM relatif lebih tahan terhadap krisis dibanding sektor lainnya.
“Program-program yang kami lakukan sejak tahun kemarin memang menitikberatkan pada UMKM, karena sektor ini terbukti tidak terlalu terpengaruh oleh krisis. Semakin banyak UMKM, insyaallah dampak krisis juga tidak akan terlalu terasa,” ujar Asep.
Menurutnya, salah satu tantangan utama adalah banyaknya pelaku UMKM yang belum tercatat sebagai tenaga kerja formal dalam data pemerintah. Padahal, jumlahnya di Kota Cimahi tergolong besar bahkan cukup tinggi.
“Sebetulnya UMKM ini menjadi sektor yang tidak tercatat sebagai tenaga kerja formal. Di Cimahi jumlahnya cukup banyak, bahkan bisa dikategorikan tinggi, tapi mereka tidak masuk dalam data resmi sebagai orang yang bekerja,” jelasnya.
Oleh karena itu, Kadin Kota Cimahi berupaya mendorong pelaku UMKM agar dapat naik kelas, tidak hanya mampu menghidupi diri sendiri tetapi juga berkontribusi terhadap pendapatan daerah serta menciptakan lapangan kerja.
“Kami ingin bagaimana UMKM ini bisa naik kelas. Artinya bukan hanya menghidupi dirinya sendiri, tapi juga bisa menjadi penghasil APBD Kota Cimahi dan membuka banyak lapangan pekerjaan,” tambahnya.
Asep juga menegaskan bahwa dengan kondisi wilayah Cimahi yang tidak terlalu luas, strategi pengembangan ekonomi tidak bisa hanya bergantung pada investasi besar.
“Secara area, Cimahi ini tidak besar, cakupannya hanya setingkat kecamatan. Jadi kami melihat lebih efektif menggerakkan UMKM sebanyak-banyaknya, sambil tetap membuka peluang investasi,” ungkapnya.
Ia membandingkan, untuk memenuhi kebutuhan 10 ribu tenaga kerja melalui investasi besar, diperlukan beberapa investor yang membangun industri di Cimahi. Namun hal tersebut tidak mudah direalisasikan dalam waktu singkat.
“Kalau kita butuh 10 ribu tenaga kerja dari investor, mungkin harus menarik 3–4 investor besar untuk bangun pabrik di Cimahi. Tapi kalau kita gerakkan 5.000 UMKM dan masing-masing menyerap dua tenaga kerja, maka 10 ribu tenaga kerja sudah bisa terpenuhi,” paparnya.
Lebih lanjut, Asep menjelaskan bahwa angka pengangguran yang tercatat selama ini hanya mencerminkan sektor formal, sementara kontribusi UMKM belum sepenuhnya terakomodasi dalam data tersebut.
“Istilah pengangguran itu biasanya hanya untuk sektor formal. Sementara UMKM ini banyak yang tidak tercatat, padahal mereka juga bekerja. Jadi kami dorong UMKM sebanyak-banyaknya agar angka pengangguran di Cimahi bisa ditekan, walaupun tidak semuanya tercatat secara formal,” katanya.
Dalam mendukung pengembangan UMKM, Kadin Kota Cimahi juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk sektor perbankan dan lembaga pembiayaan.
“Banyak dukungan pembiayaan dari perbankan, Pegadaian, dan LPS. Kami juga terus menjalin kerja sama untuk memperkuat akses permodalan bagi UMKM,” jelasnya.
Dalam waktu dekat, Kadin Kota Cimahi akan menggelar kegiatan yang melibatkan sekitar 150 undangan, dengan total kepengurusan yang saat ini berjumlah 43 orang.
“Peserta yang kami undang sekitar 150 orang, sementara kepengurusan kami sendiri saat ini ada 43 orang. Meski terbatas, kami tetap optimistis program bisa berjalan maksimal,” ujarnya.
Asep Maryadi menambahkan, dirinya saat ini memasuki periode kedua kepemimpinan sebagai Ketua Kadin Kota Cimahi yang akan berakhir pada tahun 2028.
“Ke depan kami akan tetap fokus pada UMKM, karena sektor ini yang paling mudah digerakkan dan dampaknya langsung dirasakan masyarakat,” pungkasnya.
Wawancara Lengkap (Verbatim – Dirapikan)
“Kepanitiaan tahun kemarin, program-program yang dilakukan tentunya menitikberatkan kepada UMKM, karena salah satu sektor yang tidak terpengaruh terhadap krisis. Tentunya semakin banyak UMKM, insyaallah krisis pun tidak akan begitu terasa dampaknya.
Sebetulnya kami membina UMKM, karena ini salah satu sektor yang tidak tercatat di pemerintah sebagai tenaga kerja. Di Cimahi jumlahnya cukup banyak, bahkan bisa dikategorikan tinggi, tapi tidak tercatat sebagai orang yang memiliki pekerjaan.
Makanya dari sini saya ingin meningkatkan bagaimana UMKM bisa naik kelas. Artinya dia bisa menghidupi dirinya sendiri, juga bisa menjadi penghasil APBD Kota Cimahi, sekaligus menciptakan banyak lapangan pekerjaan.
Tapi kembali lagi, Kota Cimahi ini secara area tidak besar, cakupannya hanya setingkat kecamatan. Jadi kami melihat lebih baik menggerakkan UMKM sebanyak-banyaknya, di samping tetap menarik investor ke Cimahi.
Kalau kita tarik investor, misalnya kita butuh 10 ribu tenaga kerja, mungkin harus menarik 3 sampai 4 investor besar untuk membangun pabrik di Cimahi. Tapi kalau kita pimpin 5.000 UMKM, masing-masing menarik 2 orang karyawan saja, maka 10 ribu tenaga kerja itu sudah terpenuhi.
Istilah pengangguran itu biasanya hanya untuk sektor formal. Kalau UMKM, banyak yang tidak tercatat. Maka dari itu kami dorong UMKM sebanyak-banyaknya supaya angka pengangguran di Cimahi bisa ditekan, walaupun tidak semuanya tercatat.
Hari ini undangan ada sekitar 150 orang, sementara kepengurusan kami tidak banyak, hanya 43 orang saja.
Harapannya ke depan, program-program tetap fokus ke UMKM, karena sektor ini yang paling mudah digerakkan. Dukungan juga banyak, baik dari perbankan, Pegadaian, maupun LPS, dan kami sudah menjalin kerja sama.
Untuk kepengurusan, saya saat ini memasuki periode kedua, dan akan berakhir di tahun 2028.”

Penulis : Winda, timdetikakurat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *