Detik Akurat News
Rabu, 30 Juli 2025
Ketua Umum terpilih DPP GMNI periode 2025–2028, Risyad Fahlefi, menyampaikan komitmennya untuk mendorong rekonsiliasi nasional di tubuh organisasi usai penutupan Kongres XXII GMNI yang berlangsung di Gedung Merdeka, Bandung.

Dalam konferensi pers yang digelar setelah penutupan, Risyad menegaskan bahwa dinamika panjang selama kongres menjadi cerminan bahwa GMNI adalah organisasi yang hidup dan dinamis, namun pada akhirnya seluruh kader tetap menginginkan persatuan.
“Kawan-kawan sejatinya menghendaki persatuan. Karena itu, saya berniat menginisiasi rekonsiliasi di antara semua elemen GMNI,” ujar Risyad di hadapan para jurnalis.
Sebagai langkah awal, Risyad membuka peluang pembentukan forum komunikasi nasional untuk menjembatani berbagai pandangan dan menyatukan langkah organisasi. Namun, ia menegaskan bahwa upaya tersebut membutuhkan komunikasi yang terbuka dan itikad baik dari seluruh pihak.
Selain mendorong konsolidasi, Risyad juga menekankan pentingnya kepastian legalitas hasil kongres. Ia memastikan bahwa dirinya bersama Sekretaris Jenderal terpilih, Patra Dewa, telah mengikuti seluruh mekanisme dan alur organisasi secara prosedural.
“Kami sadar betul bahwa legalitas sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap GMNI. Proses kongres ini kami jalani dengan mengacu pada aturan organisasi,” jelasnya.
Terkait beberapa kendala teknis yang sempat mewarnai jalannya kongres, termasuk terkait perizinan penggunaan Gedung Merdeka, Risyad mengapresiasi antusiasme para peserta dan berharap ke depan pemerintah lebih memberi ruang dan dukungan kepada organisasi kepemudaan.
“Semangat kader luar biasa. Harapan saya, ke depan pemerintah tidak hanya membuka ruang, tetapi juga memberdayakan kader GMNI secara adil dan setara,” tutupnya.
Kongres XXII GMNI sendiri berlangsung sejak 15 Juli 2025 dan resmi ditutup pada 30 Juli 2025 di Gedung Merdeka, ikon sejarah Konferensi Asia-Afrika. Momentum ini diharapkan menjadi titik awal bagi GMNI untuk kembali solid dalam satu barisan perjuangan nasionalis dan kerakyatan.
Reporter: wnd@&tim detikakurat




